
YOGYAKARTA — Ratusan mahasiswa dan warga menggelar aksi unjuk rasa di Simpang Empat Gramedia, Yogyakarta, pada Selasa (1/9/). Kegiatan unjuk rasa ini diakibatkan oleh kekecewaan publik terhadap kinerja presiden. “Terjadi banyak ketidakadilan, bencana, dan penguasa yang bertindak semaunya,” Ungkap Sinta (bukan nama sebenarnya). Selain itu, keracunan akibat MBG dan RUU Perampasan Aset juga menjadi alasan. Berbagai alasan tersebut memicu kemarahan massa hingga turun ke jalan dan menyuarakan kritik melalui orasi.
Orasi yang disampaikan memuat penolakan terhadap draf RUU Perampasan Aset karena dinilai memuat pasal karet. Warga juga mengeluhkan lonjakan harga bahan pokok serta kenaikan BBM semenjak program Makan Bergizi Gratis berjalan. Sebagian mengkritik pemerintah karena tidak mampu dalam mengatasi keterpurukan ekonomi yang dialami masyarakat kalangan bawah. “Masyarakat sipil menuntut prioritas utama RAPBN pemerintah itu dialokasikan kembali ke tempat-tempat yang lebih penting,” ungkap Rahmat (bukan nama sebenarnya). Keresahan mengenai ketidakadilan tersebut kemudian melahirkan dua tuntutan utama yang diusung oleh para peserta aksi.
Massa menuntut penurunan rezim Prabowo-Gibran serta penarikan kolonialisme di daerah terpencil. Isu neokolonialisme di Papua turut disorot akibat perampasan tanah adat demi Proyek Strategis Nasional. “Dia coba mengambil hak-hak masyarakat, terutama masyarakat yang mengalami ketertindasan seperti kaum miskin kota, buruh, tani, nelayan,” sebut Dinar (bukan nama sebenarnya). Warga sipil juga mengecam berbagai bentuk perampasan hak atas tanah leluhur masyarakat adat di daerah. Selain masalah perampasan lahan, Adrian (bukan nama sebenarnya) yang menjadi salah satu demonstran, menyatakan bahwa kekecewaan massa kian meluas akibat lahirnya serangkaian kebijakan pemerintah yang bermasalah.
Kebijakan pemerintah dinilai minim kajian hingga kerap melahirkan berbagai produk hukum yang kontroversial. Selain keterlibatan militer di sektor sipil, keterpurukan ekonomi kian memperparah pemborosan uang pajak melalui program yang tidak efektif. “Banyak warga merasa Prabowo-Gibran adalah sumber dari semua masalah di negara ini,” tegas Adrian. ksh***
Penulis : Thoriq Satrio Sejatining Fata
Penyunting : Aurakasih Ceta
