
YOGYAKARTA – Isu upah rendah di sektor akademik dan kreatif memicu gelombang protes massa. Serikat Pekerja Gadjah Mada (SEJAGAD) dan Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif (SINDIKASI) menggelar aksi pada Jumat (1/5). Aksi berpusat di Titik Nol Kilometer Yogyakarta dengan melakukan penyampaian orasi dan pembentangan poster tuntutan. Kemudian, aksi dilanjutkan dengan long march dari eks-parkiran Abu Bakar Ali menuju Gedung DPRD DIY yang diinisiasi oleh Aliansi Mei Melawan.
Aksi pertama dimulai pukul 10.00 WIB. Dalam orasinya di atas mobil komando, perwakilan Serikat Pekerja Gadjah Mada (SEJAGAD) menyoroti potret buram di lingkungan akademik. Upah rendah dan ketimpangan beban kerja menjadi tuntutan utama. Pekerja akademik, meliputi dosen dan tenaga kependidikan, dituntut melakukan riset, pengajaran, hingga pengabdian tanpa jam kerja yang jelas. Ironisnya, masih ditemukan pekerja akademik yang berpenghasilan di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sleman.
SEJAGAD membandingkan pemangkasan anggaran penelitian dengan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Satu hari MBG senilai satu triliun rupiah sebenarnya mampu mendanai seratus penelitian untuk seratus dosen selama satu tahun,” tegas pihak SEJAGAD dalam orasinya.
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif (SINDIKASI). Hal ini disampaikan melalui selebaran berisi poin-poin tuntutan yang dibagikan selama aksi berlangsung. Narasi “kerja fleksibel” dan “bekerja sesuai passion” dinilai menjadi kamuflase untuk menormalisasi kerja tanpa batas. Tanpa jaminan sosial hingga nihilnya Tunjangan Hari Raya (THR). Sementara, upah yang diberikan pun sering kali dinilai kurang layak jika dibandingkan dengan beban kerja mereka. Kondisi ini dipandang sebagai bentuk abai negara terhadap perlindungan hukum bagi pekerja freelance dan seni.
Aksi pagi ini berakhir dengan pembubaran massa menjelang waktu ibadah Salat Jumat sekitar pukul dua belas. Massa berkumpul kembali sekitar pukul dua siang, tetapi di tempat yang berbeda, yaitu di eks-parkiran Abu Bakar Ali. Aliansi Mei Melawan menginisiasi gerakan long march dari titik kumpul tersebut menuju Gedung DPRD DIY. Aksi sore ini mengusung narasi isu perburuhan dan ketimpangan upah yang terjadi di lingkup akademik.
Keteguhan massa diuji ketika terjadi bentrok antara Orang Tak Dikenal (OTK) dengan massa aksi di titik kumpul eks-Parkiran Abu Bakar Ali sesaat sebelum long march dimulai. Sekitar 20 orang tak dikenal berupaya melakukan intimidasi fisik yang agresif, seperti konfrontasi jarak dekat dan lontaran yang menimbulkan tekanan agar massa membubarkan diri. Meski mendapat tekanan, massa aksi tetap bergeming dan melanjutkan prosesi long march dengan tertib. Massa yang tidak terprovokasi oleh gangguan tersebut membuat aksi tetap berjalan kondusif hingga akhir. Long march mulai berlangsung sekitar pukul 14.30 WIB dengan ratusan massa yang didominasi oleh mahasiswa.
Setibanya di depan Gedung DPRD DIY, massa langsung membentuk barisan rapat. Mereka menyimak rentetan orasi yang dilontarkan oleh pihak Aliansi Mei Melawan diatas mobil komando. Di bawah pengawalan ketat, satu per satu perwakilan massa naik ke atas mobil komando untuk melontarkan tuntutan tegas kepada negara. Mulai dari pencabutan kebijakan yang merugikan buruh hingga penghentian komersialisasi ruang-ruang akademik yang kian mencekik tenaga pendidik.
Aksi peringatan May Day 2026 ini ditutup dengan komitmen untuk terus mengawal isu perburuhan secara berkelanjutan. Aliansi Mei Melawan menegaskan bahwa suara mereka tidak akan surut selama ketimpangan upah, pemberangusan serikat (union busting), hingga pembungkaman ruang akademik masih terjadi. Pemerintah didesak untuk segera mengevaluasi kebijakan ekonomi dan pendidikan agar kembali berpihak pada kepentingan publik, bukan sekadar mengakomodasi pemilik modal.
Penulis : Thoriq Satrio Sejatining Fata, Shafira Anastasya
Penyunting : Aurakasih Ceta
Fotografer : Thoriq Satrio Sejatining Fata
