Menggugat Solidaritas Semu pada Aktivisme Digital  di Tengah Matinya Gerakan Akar Rumput

Di era modern, panggung perlawanan telah bergeser secara drastis dari aspal jalanan menuju layar gawai. Saat ini kita disuguhkan sebuah ironi yang tajam. Keriuhan tagar dan luapan likes di media sosial melonjak tajam, tetapi kekuatan pengorganisasian gerakan di akar rumput justru semakin melemah. Kemudahan berpartisipasi di dunia maya sering kali hanya membuahkan “solidaritas semu”, sebuah ilusi eksistensi yang perlahan mengancam terbentuknya transformasi sosial yang nyata.

Fenomena ini memunculkan paradoks yang menjebak masyarakat dalam kubangan slacktivism. Akses informasi yang begitu luas ternyata tidak diimbangi oleh komitmen politik yang tinggi di dunia nyata. Akibatnya, lahir gerakan-gerakan leaderless yang sangat mudah viral, tetapi sangat rentan gagal secara institusional ketika berhadapan dengan kekuasaan. Secara sosiologis, kebuntuan ini mencerminkan “kegagalan hegemonik” alias hegemonic failure. Gerakan sipil pro demokrasi saat ini terbukti hebat dalam memobilisasi kemarahan massa, tetapi lumpuh dalam menawarkan alternatif yang menyeluruh. Kegagalan ini diperburuk oleh keterputusan antara masyarakat sipil dengan masyarakat politik. Penderitaan gerakan ini semakin diperparah oleh tebalnya sekat ego sektoral. Struktur penindasan negara yang kian kompleks membuat perlawanan terpecah belah ke dalam isu-isu spesifik. Tanpa adanya “musuh bersama” yang jelas, sifat pergerakan menyusut menjadi sekadar reaksioner.

Pada akhirnya, aktivisme digital bagaikan adalah pisau bermata dua, yang mempercepat penyebaran simpati, tetapi diam-diam juga membunuh kedalaman pengorganisasian massa. Untuk mencapai perubahan, kita harus berani melampaui ego sektoral dengan membangun kembali kekuatan dari tingkat akar rumput. Pendidikan, kebudayaan, dan penguatan institusi kewarganegaraan harus menjadi jalan tempuh utama. Mari kita sadari dan bebaskan diri dari belenggu “kesadaran palsu” eksistensi digital, demi mewujudkan perjuangan demokrasi substantif yang tidak hanya riuh di dunia maya.

Referensi

George, J. J., & Leidner, D. E. (2019). From clicktivism to hacktivism: Understanding digital activism. Information and Organization, 29(3), 100249. https://doi.org/10.1016/j.infoandorg.2019.04.001

Digital Activism and Political Change: Challenges of Social Media’s Impact on Political Development. (2024). Jurnal Middle East and Islamic Studies (MEIS), 11(2). https://doi.org/10.7454/meis.v11i2.177

Kawulur, S. C. (2025). CLICKTIVISM/SLACKTIVISM DAN AGENDA SETTING KEBIJAKAN: (Studi Kasus Kebijakan Pengembangan Kawasan Kayutangan Heritage  di Kota Malang). https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/263915

Gramsci (1971). Selections from the prison notebooks  (Q. Hoare & G. N. Smith, Eds. & Trans.). International Publishers.

Penulis: Amirul Yafi

Penyunting: Ramanda Naila

guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments