Kucumbu Tubuh Indahku: Film dengan Isu Sensitif yang Sarat akan Makna Filosofis

Peresensi : Salsabila Erisa Arif

Sutradara : Garin Nugroho

Produser : Ifa Isfansyah

Penulis Skenario : Garin Nugroho

Pemain : Muhammad Khan, Raditya Evandra, Sujiwo Tejo, Randy Pangalila,

Endah Laras

Produksi : Fourcolours Films, Go-Studio

Durasi : 1 jam, 46 menit

Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body) merupakan film karya Garin Nugroho yang menguraikan kisah hidup, konflik batin, serta proses identifikasi diri seorang penari Lengger Lanang. Film yang terinspirasi dari kisah hidup penari dan koreografer bernama Rianto ini menimbun prestasi sekaligus kontroversi atas alur ceritanya yang dianggap bernuansa LGBT. Penolakan terhadap film ini banyak digaungkan di media sosial sehingga menyebabkan pembatalan serta pelarangan penayangan di beberapa kota dan provinsi di Indonesia. Padahal, Garin menampilkan kompleksitas nilai sosial dan budaya yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Dibagi dalam empat babak dan berlatar waktu reformasi, film ini dimulai dengan perjalanan hidup tokoh Juno saat masih kanak-kanak. Hidupnya sarat akan ironi karena ia terpaksa tinggal sendiri setelah ayahnya yang dicap komunis pergi meninggalkan desa. Di usia yang masih kecil itu pula, ia melihat guru tari Lenggernya melakukan pembantaian terhadap muridnya sendiri. Hal yang tentu meninggalkan ketakutan dan trauma mendalam bagi Juno. Namun, bocah itu dipaksa untuk kuat dengan kalimat yang mengatakan bahwa hidup hanya ‘numpang ngintip urip’. Ia kemudian dibawa untuk tinggal bersama bibinya.

Setelah melihat kekerasan dengan mata kepalanya sendiri, di babak kedua Juno justru menjadi korban. Saat ia membuat bibinya marah, tangannya akan ditusuk dengan jarum. Sebuah praktik yang mungkin dianggap ‘biasa’ di masa itu. Ia juga dirundung oleh teman sekolahnya. Dan satu-satunya orang yang perhatian kepada bocah itu, justru harus digelandang warga karena dituduh melakukan perbuatan asusila dengannya. Untuk kedua kalinya, Juno pun harus berpindah tempat tinggal.

Babak ketiga menceritakan Juno remaja yang tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai penjahit. Babak ini menjadi perjalanan identifikasi orientasi seksualnya karena ternyata ia jatuh hati pada seorang petinju desa setempat. Mereka kemudian menjalin kedekatan yang cukup intens. Hampir setiap saat Juno menemani dan mendengarkan keluh kesah pujaan hatinya itu. Namun, pada akhirnya kebersamaan mereka harus usai setelah beberapa bandit menyeret laki-laki itu untuk menjadi ‘ganti rugi’ atas kekalahan ‘disengaja’ dalam pertarungan. Kesedihan Juno kian mendalam ketika pamannya meninggal dunia. Lagi-lagi, Juno harus berpindah dan mencari ‘rumah baru’.

Dalam babak keempat, Juno bertemu dengan sekelompok penari Lengger Lanang dan menjadi bagian tetap dari mereka. Penggambaran nasib kelompok minoritas yang sering kali menjadi korban fitnah atas kepentingan politis menjadi salah satu inti dari babak ini. Bagi tokoh bupati yang meyakini hal-hal mistis, Juno merupakan jimat keberuntungannya. Namun, Juno tidak ingin diperalat dan akhirnya mencari perlindungan pada seorang warok. Penolakan ini pun menimbulkan kekacauan karena berikutnya sang bupati memutuskan untuk menghacurkan kelompok tersebut.

Film ini memiliki nilai, pesan, dan kritik sosial yang bernas. Tiap unsur yang membangun jalan cerita film ini memiliki makna tersendiri. Nama Juno misalnya, diambil dari nama tokoh pewayangan Arjuna yang digambarkan sebagai tokoh yang lemah lembut. Hal ini terwujud pula dalam perawakan tokoh Juno yang cenderung feminin. Selain itu, sebelum adegan pembunuhan murid yang kedapatan berzina dengan istri guru tari Lengger, sang guru melantunkan tembang asmarandana yang menggambarkan fase kehidupan manusia yang sedang kasmaran. Wujud sarkasme sang guru ini kemudian menghasilkan adegan yang sangat kuat dan magis.

Selain itu, pembentukan karakter tokoh juga dilatarbelakangi berbagai faktor psikologis dan realitas sosial dalam masyarakat. Setiap manusia memiliki sisi feminin dan maskulin. Ketika tokoh Juno melihat dan mengalami kekerasan sejak kecil, hal ini justru menguatkan sisi feminin yang ada pada dirinya. Ketika tokoh petinju dituntut untuk ‘kuat’ sebagai anak pertama, ia justru membutuhkan pelukan dan sisi feminin dari orang lain. Untuk itu jalan cerita cinta yang terbangun dalam film ini juga merupakan sebuah proses dari latar belakang kehidupan tokoh. Penanaman sisi realistis dalam film ini tentu menjadi nilai plus tersendiri.

Kritik terhadap dimensi politik juga disampaikan pada tokoh ayah Juno yang tertekan akibat cap komunis yang diberikan kepadanya. Kelompok tari Lengger Lanang yang menjadi ‘rumah’ bagi Juno juga mendapat tuduhan tak berdasar dan disebut sebagai ‘PKI baru’. Melalui film ini, Garin dengan berani mengungkit jejak historis yang sensitif, namun benar terjadi dalam masyarakat saat itu. Sesuatu yang tentu menimbulkan trauma dan melekat dalam memori masyarakat, namun menjadi tabu untuk diungkap.

Meskipun perpindahan beberapa adegan tampak telalu melompat — kemungkinan karena sensor, film ini masih menjadi salah satu film terbaik anak bangsa. Melalui film ini, Garin banyak menyampaikan pesan humanis berdasarkan realitas sosial, jejak historis, dan kebudayaan masyarakat. Makna filosofis yang terkandung dalam setiap unsur filmnya dibungkus dalam sinematografi artistik ala festival yang apik. Tak heran jika film ini meraih penghargaan di berbagai nominasi dan tingkatan.

Deretan penghargaan dan kritik sosial yang ada dalam film ini kemudian menyangkal berbagai tuduhan dan prasangka yang pernah dilontarkan beberapa kelompok masyarakat. Isu yang dibawa Garin dalam setiap filmnya selama ini agaknya memang selalu terasa sensitif. Namun, itulah kelebihannya. Hanya segelintir orang yang mampu mengungkapkan trauma. Garin berani mengangkat isu-isu sensitif ini agar kemudian tidak menimbulkan sentimen dan dapat diterima masyarakat. Seperti halnya filosofi tubuh yang digunakan dalam film ini, “Semua trauma itu bagian urip (hidup), tapi kamu harus cintai badanmu.”

Meskipun sensitif dan banyak membuat orang ragu untuk menonton hanya dengan membaca judulnya saja, film ini merupakan film yang wajib untuk ditonton. Terutama, karena pesan dan nilai berharga yang bisa didapatkan darinya. Sebab, banyak hal dalam kehidupan manusia yang harus dilihat dengan pikiran terbuka dan tidak hanya dari permukaannya saja.

guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments